WBC Signage Project

By November 24, 2015 , ,


Signage merupakan hal yang tidak bisa diremehkan untuk kebutuhan Branding usaha Anda. Menurut gue ini adalah barang mutlak yang harus ada untuk usaha apapun. 

Waktu itu gue masih inget tahun 2012, dimana kawan gue, Benny Navaro masih mengurusi Project untuk WBC dibilangan Supermall Kawaraci. Dimana itu Dia meminta gue untuk datang untuk meeting perencanaan pembuatan signage brand mereka. 

Gue datang jam 15.00 WIB langsung ke karawaci, langsung duduk bertiga. Gue, Beny dan pak Owner (maaf lupa gue namanya). Layaknya dokter, gue menanyakan keluh kesah dan harapan sang owner (brainstorming kalau kata anak-anak ahensi mah). 

Dia mau buat sebuah signage yang diletakkan pada bagian timur mall karawaci dan itu keren. Gimana coba tuh idenya ? 

Gue terus eksplorasi kalimat "keren" nya dulu niy PR utamanya. Karena kalimat keren itu artinya sangat luas, maka yang gue lakukan harus bisa mengerucutkan bagaimana maksud kerennya. Lumayan cukup lama kita berbincang santai sambil gue memperhatikan orang-orang yang main bilyard disana. 

Oke, kata kerennya sudah gue kunci, gue langsung coret-coret mengajukan perencanaan, dannnnnn, dia langsung setuju. Bentuk signage itu nantinya adalah neonbox, dan bentuk dari neonbox itu gue gak mau yang umum. Bentuknya mengikuti dari logonya. 

Material yang gue tawarkan waktu itu adalah Frame dari neonbox menggunakan Steinlees Steal, dan dalam menggunakan Accrylic dan Sticker. Visualnya nanti logo saja cukup. Ukuran untuk ketinggian 12 meter pada saat dipasang, gue ajukan 3 x 3 meter. 

Dan untuk harga gue meminta waktu 2 hari karena gue harus diskusi sama team dan bagian produksi dari Fabian Studio. Lalu sang owner ok aja, sekalian dia akan memesan placemen nya pada Supermall karawaci sesuai dengan yang diinginkan oleh beliau. 

2 hari kemudian gue ajukan quotation, dan diminta menemui sang owner kembali. Kali ini gue meeting dengan Owner dan istrinya. Tempat sudah di booking untuk placement, produksi sudah bisa dikerjakan, kata sang owner. 

Oke gue mulai kick off deh mengerjakan produksinya. Memerlukan waktu 14 hari kerja untuk pembuatan Neonboxnya sendiri. 

Begitu semuanya sudah siap, ada kejadian yang agak membingungkan buat gue. Gue udah pegang surat loading barang, dan gue udah minta team untuk membawa neonboxnya. Sesampainya disana, team lapor kegue permasalahan, tidak ada listrik pada spot itu. Lah kok bisa ? 

Oke gue langsung datang departemen terkait untuk mengkonfirmasi permasalahan dari team gue ini. Lama gue menunggu prosesnya, dan akhirnya mereka dari Pihak karawaci mengkonfirmasi kepada gue. Jadi permasalahannya gini, tempat yang dipesan oleh client gue ini tadinya memang tidak digunakan untuk Placement, jadi memang mereka baru saja akan merencanakan listrik untuk lampu dari neonbox yang akan gue pasang besok harinya. 

Lumayan menguras emosi juga sih, gimana bisa yah, tempat yang sudah di bayar oleh client gue, lalu udah dapat surat loading, tapi tidak dipersiapkan dengan rapih untuk kebutuhan penunjangnya. Tapi gue kalau debat lebih panjang lagi gak akan ketemu solusinya, karena orang yang gue ajak ngomong ini pasti akan memberikan gue jawaban, iya pak, besok saya konfirmasi ke atasan saya dulu. 

Maka gue putuskan untuk meminta listrik hanya untuk kebutuhan team gue yang akan kerja. Untuk mesin las, dan lain-lainnya. Dan mereka pun menyanggupinya. Setelah itu team gue bergerak keatas dan memasang Neonbox tersebut. Gue ikut keatas, uasuuuuuuuuu 12 meter bikin gue diam diatas tidak bisa begerak. Ha h ah ah ah aha ha ... udahlah gue serahkan saja sama ahlinya. 



Selsailah sudah, akhirnya terpasang tuh neonbox diatas ketinggian 12 meter. Mulai kerja dari jam 8 malam sampai dengan jam 04.00 pagi. Gue ikut nungguin karena gue gak mau ada apa-apa. 

Keesokan harinya gue konfirmasi kepada client gue di sore harinya. Bahwa kejadiannya neonbox dia belum bisa hidup lampunya, karena memang belum diberikan MCB dari tenant-nya. Lalu Client gue pun marah besar, karena saya mau tidak mau memberikan charge tambahan untuk instalasi karena jadi 2 kali kerja kan, ha ha ha ha ha .... 

Gue diminta beliau untuk mendampingi maju kebagian Departemen terkait, SIAP !!. 

Kita diskusi panjang, karena ada arah pembicaraan kalau sang client gue diminta untuk menarik kabel sepanjang 100 meter untuk menghampiri MCB terdekat. Gue menolak disana, karena menurut gue itu gak fair lah. Kenapa client gue direpotkan lagi sama urusan beginian. Sudah seharusnya merekalah yang menyiapkan MCB tersebut karena bagian dari pelayanan penyediaan sarana dan prasarana placemen. 

Oke, deadlock deh (kayak rapat di DPR), gue keluar sebentar sama client gue untuk mendiskusikan permasalahan ini. Gue bilang sama client gue, kabel outdoor itu sangat mahal sekali, sebuah kabel yang lapisannya warna hitam yang digunakan untuk kebutuhan outdoor itu harga permeternya sangat mahal. Jadi kalau kita sampai diminta untuk menghampiri kabel sepanjang 100 meter mending dikurangi dari budget placemen-nya aja, saran gue. 

Akhirnya kita sudah sepakat, bahwa saja kita tidak mau untuk menyediakan kabel sepanjang 100 meter seperti yang mereka minta. Lalu akhirnya kita masuk lagi untuk melanjutkan diskusi dengan departemen terkait. Memakan waktu 5 Jam, akhirnya proses lobying gue berhasil, merekalah yang membuat MCB didekat Singage Kita, ini baru win win solution, he he he .... 

Dan akhirnya client gue udah bisa tidur dengan nyenyak malam harinya, karena lusa akan segera dilakukan proses instalasi listrik untuk kebutuhan dari Sigangenya. Satu hari mereka mengerjakan pembuatan MCB, dan keesokan harinya gue dan team masuk untuk instalasi listrik untuk Signagenya. 

Ooooo gue inget sekarang nama ownernya, Pak Tedi, owner dari WBC Bilyard ini. Lalu saya konfirmasi dengan Departemen kembali untuk permasalahan surat loading lagi, dan akhirnya lusanya saya melakukan instalasi listrik yang hanya membutuhkan 5 meter kabel outdoor. 



Kebanyakan orang ketika ada permasalahan yang complicated kayak tadi mengutus orang untuk menyelesaikan, kalau gue mah mending gue sendiri yang maju. Karena dari kasus-kasus yang kayak gini akhirnya gue nambah pengalaman. Kecuali kalau memang sudah masuk ke ranah hukum yah, gue memang harus minta didampingi oleh kawan-kawan pengacara pastinya. 

Kalau hanya masalah birokrasi, dan seputar pelayanan Gue siap untuk fight untuk mencari win-win solusi antara client dengan pihak terkait. Gue cuma berusaha memberikan yang terbaik semaksimal yang gue bisa. Terkait dengan urusan logika, dan keharusannya. Karena sudah biasalah, ketika permasalahan seperti diatas yang gue ceritain itu sebenarnya simple, kalau memang kita bisa dudukan antara hak dan kewajiban. 

Tapi biasanya antar departemen kadang tidak kordinasi sehingga terjadi kesulitan-kesulitan yang memang mumet mecahinnya. Kejadian diatas menggambarkan bahwa Departemen Marketing dengan Departemen Teknis pasti tidak koordinasi yang akhirnya client gue yang biasanya jadi korban. Karena tempat itu tidak biasa dijual untuk placemen pemasangan materi branding, dan tiba-tiba dari departemen marketing menjual itu menjadi placemen. 

Tapi Departement teknis yang tidak dikasih tahu, mereka akan merasa terbebani membuat instalasi tersebut. Tapi kalau kita dudukkan bareng pasti deh ketemu jalan keluarnya. Ini bukan satu-satunya kasus dalam hal gue jalanin bidang beginian. Udah sering banget gue menjembatani client gue untuk maju kepihak-pihak yang terkait. Dan alhamdulillah semuanya lancar jaya, karena gue gak suka juga membentak-bentak, marah-marah, lebih kearah musyawarah mufakat ajalah. 

Karena buat gue, semua itu pasti ada jalan keluarnya. Semua permasalahan itu pasti ada solusinya, cuma ego manusianya aja yang kadang menghambat solusi tersebut. Gue lebih baik mencoba berbicara baik-baik dan meminta kepada mereka bahwa ini loh sebenernya solusinya. Kalau sudah didudukkan bersama hampir dari 90% presentasenya berhasil kok.







Salam Kreatif, 
Arie fabian

You Might Also Like

0 comments