Banyak Kawan Banyak Rezeki

By December 24, 2015 ,


Idealnya sih ingin bisa apa saja, walaupun dengan segala daya akhirnya sadar kenapa kita diberikan tangan hanya dua, tertanda kita pasti memiliki keterbatasan. Tapi setidaknya gue sih terus berusaha untuk mencoba, mencari tahu tentang apa saja yang ingin gue tahu. 


Musik, fotografi, berkomunitas, menjadi sarana gue mencari kawan-kawan disana. Dimana sebuah kegiatan yang selalu berkaitan dengan kreatifitas, itu gue suka banget. Menurut gue sih observasi sangat penting dalam menyelesaikan banyak permasalahan. 

Negosiasi, diskusi, Brainstorming, dan meet creative brief terkadang bisa berhasil apabila kita mengetahui bagaimana dari kebiasaan lawan bicara kita. Gue udah coba berkali-kali kok, dimana pendekatan-pendekatan itu bukanlah hal yang menjadi menakutkan apabila memang kita memiliki hobi berinteraksi dengan sesama. 

Itulah yang menyenangkan buat gue pribadi, bertemu dengan banyak kawan, mendapat banyak pengalaman dari yang mereka lakukan. Kalau saja kita berfikir semua itu bisa kita ketahui dari banyaknya informasi yang sudah dibuka lebar didunia maya, mau berapa lamakah kita mengetahui semua informasi yang ingin kita dapatkan ?  jawabannya pasti dengan waktu yang sangat lama. 

Tapi terkadang, dengan berkawan atau dengan banyak kawan, hal tersebut bisa kita ringkas untuk waktu tempuhnya. Itulah yang saya sukai, dimana akhirnya saya banyak menyerap pengetahuan dari apa yang kawan-kawan gue kerjakan. 


Gak usah milih-milih saat sekarang, dimana dunia luar sudah banyak mengajarkan bahwa pola komunal sangat digemari oleh Negeri kita tercinta ini. Hanya saja sebenarnya kalau kita ingin menarik kebelakang kembali, bahwa saja Negeri kita sudah sedari dulu sebenarnya terkenal dengan gotong royongnya. 

Cuma beberapa saat sejak teknologi masuk, ada hal yang lucu terjadi pada perubahan kebiasaan tersebut. Jaman dahulu kita bisa merekatkan pergaulan antar sesama kawan yang berada didalam satu lingkungan, kalau kita lihat pada saat sekarang, kita punya tetangga terkadang kenalnya malah jauh dari kawasan rumah dimana tempat kita tinggal. 

Banyak sekarang pola-pola berdekatan tidak berkenalan akan tetapi berjauhan bekenalan dengan orang yang tinggalnya sebenarnya berdekatan. Terbalik dengan era 98 an, dimana kalau saat itu kita justru mengenal dari yang berdekatan terlebih dahulu baru banyak berkenalan hingga simpul yang terjauh. 

Hayo, coba dirasakan sendiri, bener nggak ? 


Sampai-sampai ada seseorang yang membuat slogan, "dengan sosial media menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh". Tapi gue yakin kok, itu cuma bersifat sementara saja, dimana ada saatnya nanti kita akan kembali kepada jati diri asal muasal kita berada. 

Kalau buat gue sendiri punya slogan "banyak kawan banyak rezeki" bukan berarti dianalogikan gue selalu meminta rezeki kepada kawan gue sendiri loh. Itu gak sama sekali gue simpulkan demikian. Melainkan Gue bisa mendapatkan pengetahuan dengan gratis dari kawan-kawan gue. Tapi biasanya nggak gratis juga sih, beberapa kawan juga ada yang ingin bertukar pendapat tentang apa yang gue kerjakan dan apa yang dia kerjakan. 


Itu merupakan kegiatan yang paling gue senengin banget. Pernah satu harian kita cuma berdiskusi saja walau akhirnya tanpa eksekusi. Ide itu biasanya yang di inkubasi terlebih dahulu dan akhirnya suatu saat nanti baru bisa dieksekusi. Karena hasil dari bertukar pendapat ide yang dihasilkan masih sangat mentah sekali.


Bekerja dengan banyak kawan sangat menyenangkan, membuat itu seperti bukan pekerjaan yang sangat individual. Jujur banget gue bukan orang yang individual, melainkan memang suka dengan komunal. 

Dimana itu bisa berkenalan dengan banyak kawan, banyak orang, mendengarkan sukses story orang lain, pengalaman kawan-kawan, membuat kita akhirnya mendapatkan banyak pengalaman yang akan memberikan kita jalan apabila kita menemukan kesulitan. 


Tidak ada tujuan yang paling mulia buat gue pribadi melainkan kita bisa bermanfaat bagi orang-orang disekitar kita. Gue selalu ucapkan itu kepada siapapun, karena kita memang dilahirkan untuk menyempurnakan dan disempurnakan.

Itulah kenapa kita disebut dengan makhluk sosial. Senang bisa memberikan ide, pemikiran untuk bisa bermanfaat bagi banyak orang, membuat hidup menjadi lebih hidup aja rasanya. Apalagi nih, kalau sampai ide kita tereksekusi, terus bisa menjadi manfaat yang besar, wah rasanya uang sudah tidak ada harganya lagi tuh. 

Gue suka mengobservasi juga, ternyata banyak diluaran sana yang membeli kawannya dengan uang yang mereka miliki. Dan sedihnya lagi, banyak juga kawan yang bercerita ketika usahanya sudah bangkrut, akhirnya mereka pergi begitu saja seperti orang yang tidak pernah berkawan. Saya sering banget bilang, seperti itu sudah tidak usah difikirkan. Karena hukum alam saja sih, ada hidup dan ada mati, itu alam kan sudah mengajarkan. 

Yang berarti ada datang dan ada pergi. Kalau gue pribadi sih gak pernah ada istilah "bekas kawan", sekali kawan yah harusnya sudah terus berkawan. Cuma dekat dan tidak dekatnya saja yang kadang membedakan. Tidak sering datang lagi bukan berarti kita sedang dilupakan, tapi yah kalau kita berfikiran positifnya, mereka sedang banyak aktifitas sehingga mereka sibuk tidak sempat berkunjung. 

Kalau sudah begitu, biasanya gue lah yang coba menghubungi untuk minta ketemuan. Ada rasa ingin tahu tentang apa yang sedang dia kerjakan, setidaknya itu akan menambah daftar pengetahun baru dalam list gue. Gak usah terlalu dibawa seriuslah nanti jadi "Baper" lagi. 



Salam Kreatif, 
Arie fabian

You Might Also Like

0 comments