After Sale Service yang Mengecewakan

By February 01, 2016 ,


Lagi gila Android, gue mencoba-coba beberapa Android yang dipasarkan pada saat sekarang. Dimana gue mulai masuk ke arah mencoba handphone Android kelas duanya. Jadi ada beberapa komparasi yang gue lakukan untuk spek-spek yang ditawarkan oleh Handphone yang berbasis sistem Operasi yang bernama Android ini.

Jika kita iseng mengkomparasi Spek yang ditawarkan oleh banyak handphone berbasis Android ini kita memiliki berbagai macam tawaran yang menarik. Jadi ada beberapa yang sempat gue lihat dimana ada sebuah pabrikan yang menjual dan menggembar-gemborkan spek hardware yang hampir sama dengan kompetitornya akan tetapi membandrol harga jauh lebih murah dari kompetitornya. 

Seru banget memang mengeksplorasi handphone berbasis Android ini. Karena kita sama-sama tahu kan, berbeda dengan IOS yang hanya digunakan oleh Handphone pabrikan Apple, jika Android ini berbagai macam merk ada pada sistem operasi ini.

Mulai dari awal gue mencoba Asus Zenfone 2, dimana kalau kita lihat speknya sendiri sangat luar biasa. Mulai dari kecepatan prosesornya, dan memang bentuknya yang sangat ideal sekali dengan smartphone saat sekarang.




Hanya saja, untuk Handphone ini sangat disayangkan, pengalaman gue menggunakan Merk ini hanya 5 bulan. Dimana Asus ini jika kita gunakan untuk bermain game seperti COC (yang gue mainin), maka Handphone cepat panas. Tidak sampai 2 jam kita main, pasti handphone akan terasa sekali panasnya.

Dan ada satu hal lagi yang menurut gue cukup mengganggu untuk Handphone Asus ini, dimana pada bagian belakang, batre tidak bisa kita copot. Ini sangat menyiksa menurut gue sih, karena dimana pada saat handphone hang, maka kita tidak bisa mencopot batre. Dan yang kedua, pada saat batre kita bocor alias kalau di charge dalam waktu 4 jam habis lagi, maka kita tidak bisa mudah mengganti batre tersebut, karena tidak semua tempat handphone memiliki teknisi untuk membongkar untuk mengganti batre pada smartphone ini.


Nah setelah 5 bulan entah kenapa, Handphone itu tidak mau menyala. Saat Gue pencet button on-off nya tidak ada reaksi sama sekali. Lalu gue coba klaim ketempat saya membeli handphone tersebut. Lalu mereka bilang, ini sudah tidak tanggungan toko lagi, melainkan gue harus ke distributornya.

Memang gue sih sudah dikasih tahu saat membeli, kalau memang lebih dari satu bulan bermasalah memang harus kedistributornya. Yang ada dalam fikiran gue distributornya jauh sekali, di daerah Roxy sedangkan rumah gue di daerah Tangerang, dan juga jalan mengarah kesana itu tidak pernah satu jalur. Jarang banget gue kerja kearah sana. Sekalipun bisa kalau kondisi mati total seperti yang gue alami, tidak mungkin pengerjaan bisa ditunggu.

Maka akhirnya gue putuskan untuk membeli lagi handphone baru. Kali ini gue mencoba handphone Android kelas dua dengan label Xiaomi Note 2.


Gue lihat pada merk xiaomi ini hampir pada bagian hardware-nya juga lumayan cukup baik. Gue ditawarin note 2 dan Note 4. Bedanya pada lagi-lagi bagian batre yang tidak bisa dilepas dan pada bagian memori yang tidak bisa ditambahkan pada note 4.

Ck... ck... ck.... gue udah gerah diperlakukan begitu sama I Phone, makanya gue ogah untuk memilih Note 4. Dimana gue berasa banget ribetnya kalau Memory Card sudah penuh sulit sekali kita menambahkan memory atau meng-upgrade memory untuk kapasitas yang lebih besar.

Akhirnya deal, gue beli Note 2 dengan batre yang bisa dibuka dan memory bisa di upgrade. Orang sekarang jamannya sudah buka-bukaan ngapain batre ditutup-tutupin yang akhirnya hanya memberikan kerepotan bagi pemilik handphone ini untuk mengganti batrenya pada saat batre bocor atau kenapa-napa.

Terus terang, pada kali ini pilihan gue gak salah. Nyaman dipakainya dan memang beneran enak untuk digunakan kerja. Sayangnya, handphone kesayangan gue ini jatuh (terbang bebas) pas bulan kelima. Efeknya speaker untuk mendengar suara orang yang menelpon kita jadi mengecil suaranya. Sementara gue mencoba mengakali-nya dengan menggunakan headset sampai ada waktu untuk membenahinya.

Pas hari kemarin persis, akhirnya gue baru punya waktu untuk main ke ITC Fatmawati, Jakarta. Gue sempet menanyakan kepada teknisi setempat untuk benerin Handphone gue. Lalu mereka selalu menanyakan hal yang sama, "ini masih garansi kan pak ?"

Gue menjawab, "Iya".

"Sayang pak kalau masih garansi, lebih baik ke service centernya aja, Kita belum ada sparepart-nya kalau disini". Setidaknya itulah jawaban kompak dari para teknisi di ITC Fatmawati, Jakarta.

"Ini Service Centernya ada di Ambasador kok Pak, Lebih baik Bapak kesana saja". Tambah salah satu teknisi di ITC Fatmawati.

Oke, mau gak mau gue harus mau menerima saran dari mereka yang keroyokan itu, Fine, gue ke Ambasador-lah, daripada gak ada jalan keluarnya. Jalan dari ITC ke Ambasador berasa touring dari ITC ke ITC, he he he ....

Sampailah gue diambasador, lalu gue bertanya kepada beberapa toko Handphone disana bahwa service center yang gue maksud itu ada dilantai berapa. Ternyata gue mendapatkan jawaban itu adanya dilantai 4, akhirnya segeralah gue kelantai 4. Sesampainya disana gue antri menunggu giliran. Setengah jam menunggu akhirnya ada hasil, dipanggil coy.

Setelah dipanggil gue jelasin deh keluh kesah gue tentang tetangga gue yang nyebelin banget, eh salah yah, tentang speaker handphone gue yang mengecil. Lalu jawabannya sangat mengejutkan gue dan hampir membuat gue pengen pingsan.

"Handphone-nya ditinggal pak, untuk masalah speaker ini paling gak 45 - 60 hari kita butuh waktu untuk mengerjakan".

WHAT ?

Dipikiran gue itu benerin Speaker cuma bongkar sebentar melihat speakernya, apakah memang benar speakernya mati atau memang ada kabel yang terlepas lalu pastikan dan ambil tindakan butuh waktu 60 hari ?

Sungguh solusi yang bijaksana untuk mengatasi antrian yang panjang dan tidak mau pusing untuk solving problem dari seorang pelanggan. Baiklah, gue putuskan untuk bilang, "Terima kasih mbak, menyesal gue datang kemari".

Akhirnya gue pergi dari tempat penistaan itu dan mencoba curhat sama tukang handphone disekitar Ambasador situ. Untungnya gue curhat sama orang yang benar, dia bilang gue bisa benerin kok, tapi resikonya garansinya hilang Pak.

Yah siapa lagi yang mikirin garansi kalau udah begitu, gue cuma bilang ke orangnya, kerjakan mas.

"Tapi gak sampai 60 hari kan ?"

Ketawa terbahak-bahak itu tukang service handpone sambil mecah-mecahin etalase handphone-nya (nggak sih, biar dramatis aja efeknya).

"Sejam Selesai mas", jawab si tukang Service.

"Okeh, dikerjakan, mulai dari sekarang", gue bilang sama dia sambil memencet stopwatch untuk menghitung akurasi 1 jam yang dia janjikan ke gue.

"Okeh mas, gue tinggal ngopi diatas, ini nomer handphone gue yang satu lagi, kalau udah selesai hubungin gue biar langsung gue balik kesini (ketempat dia lagi)".

Akhirnya gue ngopi diatas untuk melepas lelah perjuangan jalan dari Fatmawati ke Ambasador yang mengalami mobil parkir dijalanan jakarta (macet parah). Bener loh, belum abis kopi gue seruput itu tukang service sudah nelpon gue lagi, dia bilang sudah jadi handphone-nya.

Gue bilang oke nanti gue ambil setelah selesai gue abisin nih kopi gue. Setelah gue kebawah, masalah speaker gue sudah selesai dan bisa normal kembali.

Dari kejadian diatas gue bisa bilang, ketika memang produk sudah sedemikian baiknya tapi tidak dibarengi dengan after sale service yang memuaskan tidak sedikit juga yang akhirnya dia meninggalkan produk tersebut atau distributor dengan label yang menangani produk itu sendiri.

Sayang banget kalau kejadian sampai seperti ini, apalagi kita tahu banget, bahwa Handphone saat sekarang sudah menjadi satu kebutuhan bagi orang yang hidup dikota yang namanya JAKARTA. Kehilangan handphone selama 60 hari itu sama dengan meminta kita untuk membeli handphone baru, karena gak mungkin juga kita rela kehilangan relasi kita untuk waktu 60 hari. Bisa ketinggalan lebih dari 10 project dalam waktu 60 hari.

Apakah memang yang membuat prosedur itu tidak memikirkan dengan bijak, untuk estimasi yang mereka berikan kepada pelanggannya. Jangan difikir ini bentuk tanggung jawab yang memang lebih baik daripada tidak ditangani sama sekali, menurut gue mah mendingan gak usah tanggung jawab sekalian daripada memberikan waktu sepanjang itu.

Gue juga sebagai pelanggan juga bisa mikir, atau gue rasa pelanggan yang lainnya juga bisa mikir, dengan keluhan yang serupa dengan gue, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membenarkannya. Kecuali kejadian seperti Asus gue diatas, itu sih kalau menurut gue masih bisa diwajarkan-lah, makanya gue ambil sikap mending beli baru daripada gue harus nunggu untuk waktu yang lama.

Tapi untuk keluhan pada xiaomi gue menurut gue untuk satu kejadian yang luar biasa. Jika memang sampai menyebutkan 45 - 60 hari. Seolah-olah gue kagak punya harapan lagi kecuali memang menaruh handphone gue di service center itu. Malah sekarang kejadian terbalik, next kalau ada kesempatan ganti handphone lagi, gue akan lebih selektif memilih distributornya, setidaknya tidak dengan label itu.

Pada saat sekarang orang berlomba-lomba membuat kecepatan, kalau ini malah kebalikannya, kalau bisa dilama-lamain ngapain dicepetin, itu mah jadul banget yah. Cepat, kalau bisa langsung jadi, walau gak mungkin karena yang antri banyak.

Bagusnya sebuah produk adalah satu kesatuan dengan pre sale dengan after sale kalau menurut gue. Bagus dalam branding atau memang mempublikasikan produk, tentu akan dikomparasi kembali dengan after sale-nya.

Ini sih opini gue aja yah, sekaligus pengalaman gue yang seru banget akhirnya. Tour dari ITC ke ITC dan mencoba mengetes kalau Gue jalan sendiri untuk meminta garansi bagaimana sih rasanya, ternyata gak enak, kita tetep harus mikir. Ha ha ha ha ......






Salam Kreatif,
Arie fabian 

You Might Also Like

0 comments