Berceloteh di Pinggir panggung

By April 28, 2016 ,


Jadi banyak yang ingin berbicara ketika setiap orang sekarang sudah diajarkan cara berbicara yang lantang oleh kabanyakan orang yang nongol mukanya di televisi. Setiap kali kita menonton televisi maka kita akan melihat satu adegan berceloteh dipinggir panggung. Jadi pada saat itu gue kebetulan menemukan contoh yang kayak gini, maka gue katakan "berhentilah berceloteh dipinggir panggung", sini naik dipanggung bersama gue, kita selesaikan masalah yang lo anggap mudah itu. 

Ibarat kita sedang menonton sebuah pertandingan catur, setiap orang yang melihat dalam posisi tidak bermain memang lebih leluasa dalam berfikirnya. Karena dia tidak menanggung beban mental yang dirasakan oleh sang pemain. Banyak yang berkelakar, menghujat, bahkan menyalahkan atas setiap gerakan yang dilakukan oleh salah satu pemain tersebut. 

Nah yang lucunya lagi, ketika dia menjadi pemain, maka dia akan merasakan hal yang sama dengan pemain sebelumnya. Tidak bisa lebih pintar daripada komentator yang berada dipinggir panggung pada saat dia sedang menjadi pemain. 

Ketika itu seorang kawan memang seorang bisnis analist didalam sebuah Perusahaan swasta Nasional. Sebagai seorang Analis muda kekurangan dari kawan gue ini memang tidak memiliki kedalaman dalam perihal riset. Gue terkadang seneng banget nih menemukan hal yang seperti ini, melakukan debat cerdas dengan mengesampingkan emosi. 

Sebuah solusi dia tawarkan sama gue mulai dari A sampai dengan Z. Wuah, canggih-canggih banget deh, mulai dari membongkar semua management sampai dengan meluruskan SOP yang pernah gue buat untuk usaha kecil-kecilan yang gue bangun. 

Maka pada saat itu penawaran gue seperti ini kurang lebih : 
" Oke, sekarang buktiin semua teori lo sama gue, dan sekarang gue kasih kesempatan lo untuk membuktikan bahwa teori dia itu dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah dia rencanakan" 

Sebenarnya setengah bercanda gue ngomong begitu, karena gue fikir mana mungkin dia keluar dari kantor untuk hanya untuk gabung di usaha gue yang apalah gitu namanya. 

Sebulan demikian dia mengabarkan gue bahwa dia telah resign dari kantor, dan siap bergabung dengan usaha gue yang apalah namanya. 

Sungguh GENTLEMENT sebagai laki-laki yang ingin membuktikan diri. Gue terkejut sekaligus geleng-geleng kepala sambil berguman dalam hati, kayaknya dia abis minum pil koplo satu lemari agar berani mengambil langkah besar yang agak gak waras kayak gini. 

Singkat cerita akhirnya dia bergabunglah dengan gue, membangung dan mulai merapihkan satu persatu. Kebetulan juga pada saat itu gue mendapat satu pekerjaan big bang sehingga modal awal untuk memberikan bayaran kepada dia aman ada dikantong gue. 

Alhasil gue mampu membayar gaji dia dua  kali lipat lebih besar dan gue simpan itu untuk 3 bulan kedepan. Gue anggap ini investasilah, untuk bisa membuat lebih baik lagi usaha yang gue miliki ini. 

Jadilah akhirnya gue satu panggung sama dia, dan gue pun memberikan akses yang selebar-lebarnya kepada dia agar bisa masuk kedalam management yang sebelumnya udah gue susun. 

Sebulan, dua bulan, belum nampak perubahan yang signifikan dari apa yang sudah dia rencanakan. Gue lihat malah beberapa pekerja gue saat itu mulai tidak percaya atas apa yang dilakukan oleh kawan gue ini, lalu beberapa masalah mulai timbul, karena memang apa yang direncanakan tidak semulus pada saat dia terapkan. 

Pas bulan ketiga dia pun mulai terlihat PENING kepalanya. Karena akhirnya semuanya menjadi bom waktu terbalik buat dirinya. Masalahnya gak selesai, malah timbul lebih banyak masalah. Akhirnya mau nggak mau gue coba rapihkan perlahan-lahan kembali, tapi memang kondisi kapitalnya sudah hampir habis maka saat itu menjadi kondisi seperti bom yang meledak. 

Dan akhirnya dia memilih untuk mengundurkan diri, gue cuma tersenyum. 

Dia bertanya sama gue pada saat itu kenapa strateginya tidak bisa berjalan padahal membereskan usaha yang kecil ini harusnya lebih mudah daripada dia menyusun strategi untuk Perusahaan Swasta Nasional sebelum dia datang di usaha gue. 

Jawaban gue cuma satu : 
RISET 

Sebesar apapun masalahnya kalau risetnya bener maka harusnya bisa berhasil. Turun dulu kelapangan, berbincang dulu dengan orang yang memang sudah banyak pengalaman dilapangan, raih data yang akurat, kumpulkan data, berantakin data baru selsaikan masalah dari data-data yang sudah dikumpulkan. Tanpa itu hasilnya akan 0 benar. 

Ketika dia berkelakar diluar panggung itu tak layaknya seperti komentator orang yang sedang main catur. Terlihat semuanya mudah, lain perkara pada saat dia yang main, pasti nggak semudah pada saat dia menjadi komentator. 

Sebenarnya teori yang dia punya gue akui sangat bagus, gue lihat semuanya sebenarnya masuk akal dikerjakan. Tapi yang dia lupa ketika kita ingin merubah segala sesuatunya yang sudah terjadi dalam waktu beberapa lama juga butuh nyali yang besar. 

Contoh Ahok saja yang gampang kita pelajari saat ini. Ketika dia membongkar sana membongkar sini, nyalinya cukup besar. Semua ditabrak, semua dilabrak, sehingga semuanya marah. Tapi ketika risetnya bener, maka semuanya tidak bisa melawannya dengan asumsi semata. Sekarang terlihat bukan, para kompetitornya sedang mencari data untuk menjatuhkan dia. 

Bukan membahas politiknya, akan tetapi membahas tentang ingin merubah sesuatu yang memang sudah dijalankan untuk waktu yang cukup lama butuh nyali selain riset. 

Buat seorang analis muda gue masih melihat dia hanya mengandalkan teori dan kurang banyak pengalaman dalam menghadapi tekanan orang lapangan. Ketika tidak dapat mengatasi dengan benar, orang lapangan ini jauh lebih merepotkan dibandingkan dengan berdebat sesama pada level direktur. 

Dan akhirnya diapun sampai saat ini sering berkunjung kerumah gue untuk minta diajarin strategi, karena akhirnya gue berhasil menjalankan strategi dia dengan cara gue sendiri. Gue senyum doang, apa yang bisa gue ajarin, orang gue gak pernah belajar strategi kok, kalau Strategi untuk kreatif banyak. Strategi membangun Perusahaan gue gak ada sama sekali kok, cuma gue belajar dari pengalaman-pengalaman yang akhirnya gue evaluasi aja kok. Se-simple itu. 

Tapi dia kekeh, yah gue bilang sama dia jalanin aja yang terbaik, perbaiki dari masalah yang pernah singgah, dilihat secara benar kenapa masalah itu terjadi dan dicari cara nyelesaiin-nya bagaimana. Cuma itu doang strategi gue. 

Guru yang paling baik adalah pengalaman, dan pengalaman dapat menuntun kita agar bisa lebih baik lagi. Jangan pernah takut salah, karena terkadang dari salah kita jadi tahu yang benar. Setiap membuat sebuah kesalahan, akuin itu gue salah. Karena dengan mengaku terkadang orang yang menyalahkan kita malah mengajarkan gue untuk menyelesaikan masalahnya. Banyak orang yang nggak nyangka, ketika berbuat salah dia malah sebisa mungkin untuk mencari alasan agar dapat membuat dia terlihat tidak salah didepan orang lain. 

Padahal kalau dia mau mengakui kesalahannya, orang yang menyalahkan akan memberikan jawaban atas kesalahan yang kita lakukan, dan itu sangat baik untuk bahan evaluasi kita selanjutnya. Kalau manusia bener terus itu udah salah kaprah dengan kodratnya. Manusia harus salah untuk bisa belajar, manusia harus kurang agar ada yang memberikan lebih kepadanya, seperti puzzle, satu sama lain jika disatukan maka akan tersusun gambar yang utuh. 

Tapi kalau kita terus mempertahankan diri untuk selalu benar, maka sampai kapanpun orang secara berjamaah akan menyalahkan Anda, dan itu tidak diucapkan didepan Anda alias dibelakang Anda. Sampai-sampai Anda tidak akan pernah tahu apa kesalahan Anda sebenernya. 

Pengalaman aja sih, gue sering banget ketemu sama orang yang selalu merasa dirinya benar. Buat gue sih gak ada masalah, tapi jujur gue paling takut ngasih pekerjaan sama orang yang berjenis seperti ini, karena sebenarnya pada jenis ini merupakan orang yang tidak bisa berdiskusi. 






Salam Kreatif, 
Arie fabian

You Might Also Like

0 comments