Jenis Mesin untuk Percetakan Offset

By April 11, 2016 ,


Evolusi yang dimulai untuk sebuah percetakan dalam hidup gue dimulai dari era sablon. Kalau nyokap gue dulu pernah cerita kalau dia pernah magang di percetakan dimana satu huruf dibuat dari plat perhuruf, sayang sekali gue belum ngerasain percetakan fase itu. Gue mulai tahu proses evolusi cetakan itu dari Screen Printing atau yang sering dibilang oleh orang adalah Sablon. 

Dari proses Updruk sampai dengan proses sablonnya pernah gue kerjakan. Pada jaman dulu itu membuat kop surat atau kartu nama masih ada yang dikerjakan menggunakan Sablon. Banyangin tuh 1 box kartu nama isi 100 lembar, dikerjakan melalui sablon. Kalau 5 box lumayan gempor juga sih tangan.

Waktu itu gue ingin mencoba membuat usaha sablon kecil-kecilan. Namun sayang itu tidak dapat bertahan lama karena jujur gue gak kuat menghirup bau M3, dimana M3 itu adalah cairan kimia yang berguna untuk mencuci screen dari Sablon.


Proses sablon dikerjakan berdasarkan banyaknya warna yang akan dibuat. Jika ada 5 warna dalam satu desain, maka itu dikerjakan selama 5 kali pengerjaan. Jadi seumpama satu box kartu nama itu sama dengan 100, proses pengerjaannya adalah 100 x 5 warna alias 500 kali pengerjaan, itu untuk satu box kartu nama, nah bayangin deh tuh kalau 100 box, gempor ........

MESIN KECIL 

Sablon itu lumayan cukup lama bertahan, dari tahun 2001 sampai dengan 2005 -an. Walau sekarang masih ada juga yang tetap menggunakan, tapi proses sablon ini lebih tenar ditahun-tahun itu.

Setelah proses Sablon maka keluarlah mesin dengan nama mesin kecil. Mesin kecil ini di dominasi oleh mesin : Toko dan Multilith (yang gue tahu loh yah).

Mesin Cetak TOKO
Mesin ini pada prinsipnya bekerja seperti sablon. Dimana pengerjaan percetakannya berdasarkan warna. Kalau seumpama ada 5 warna maka proses dilakukan selama 5 kali. Cuma bedanya kalau sablon digunaka menggunakan tangan perbedaannya dengan mesin toko ini adalah menggunakan mesin. Jadi gak gempor lah kalau bahasa sekarangnya.

Lebar dari mesin toko ini biasanya ukuran Folio sekitar 35 x 30 cm, dimana pada mesin ini hanya bisa mencetak ukuran folio saja. Berbeda dengan mesin multilith yang bisa mencetak sampai dengan double folio.

Mesin Cetak Multilith
Kelebihan dari mesin kecil yang bernama Multilith ini memiliki area cetak sampai dengan double folio. Jadi lebih lebar area cetaknya, cuma kekurangan dari mesin kecil ini adalah mesin ini tidak bisa digunakan untuk gambar-gambar yang sparasi. Jika ada yang gambar yang sparasi maka mereka mencetak dengan teknis raster.

Pertemuan warna gradasi akan dibentuk melalui bintik-bintik kecil atau yang sering disebut dengan raster. Bisa mencetak gradasi cuma jadinya raster dan rasternya sangat kasar sekali jika menggunakan mesin ini. Sangat riskan jika mencetak foto orang ataupun sebuah gambar yang memang gradasinya sangat halus sekali.

MESIN SEDANG 

Mesin sedang ini merupakan bentuk penyempurnaan dari mesin kecil. Mesin sedang ini memiliki berapa merk yang gue tahu, yaitu : Hamada dan Geistener.

Mesin Cetak HAMADA
Mesin cetak ini hampir sama dengan mesin kecil diatas. Proses pengerjaan pra cetaknya menggunakan Film dan plat atau master basah. Nah untuk mesin cetak ini memiliki lebar area cetak ada yang folio dan ada juga yang double Folio. Dimana mesin ini sudah dilengkapi dengan raster yang sudah lebih baik dari pada mesin kecil.

Mesin Cetak Geistener
Mesin cetak sedang ini bisa memproses cetak lebih cepat dan lebih banyak untuk keluarannya dibandingkan dengan mesin kecil. Harga ongkos cetak dari mesin sedang ini sedikit lebih mahal dari mesin kecil. Kalau Ongkos cetak mesin Kecil itu range harganya sekitar 10.000 s/d 15.000 per master atau per warna, maka mesin sedang bisa sampai dengan 25.000 sampai dengan 30.000,-

MESIN BESAR 

Mesin besar atau mesin yang ideal sampai saat ini masih digunakan untuk percetakan, walaupun sebagian untuk mesin kecil dan mesin sedang masih banyak beredar, akan tetapi mesin besar ini lebih banyak digemari sampai saat ini.

Mesin Cetak GTO 2 warna
Pada mesin besar ini didominasi oleh mesin heidelberg, cuma perbedaannya kita bisa lihat ada 2 warna dan 4 warna. Kalau 2 warna kita akan mencetak per dua warna, kalau 4 warna maka bisa mencetak langsung 4 warna.

Kita pernah melihat tulisan GTO 52 dan GTO 72, apa maksudnya ?

Angka yang berada dibelakang GTO itu menandakan area cetaknya. Kalau GTO 52 maka area cetak mesin itu adalah 35 x 52 cm sedangkan 72 itu menandakan area cetaknya adalah 52 x 72 cm. Makin lebar area cetaknya maka semakin mahal biaya cetaknya. Kalau yang GTO 52 ongkos cetaknya adalah Rp. 50.000 sampai dengan 75.000 per plat atau per warnanya, maka untuk yang GTO 72 maka dikali dua untuk harga ongkos cetaknya.

Nah kurang lebih sih itu pengalaman gue main di Offset Printing mulai dari tahun 1999 sampai dengan sekarang. Kalau untuk perkembangan mesin sekarang ini sudah ada mesin yang mencetak sampai dengan melipat untuk membuat sebuah brosur. Jadi kita tidak perlu melipat kembali untuk membuat  cetak brosur.

Jujur, seru memang mengikuti perkembangan mesin cetak yang beredar di Jakarta ini khususnya. Dimana setiap ada perkembangan selalu dibuat untuk memudahkan pekerjaan manusianya atau operatornya sendiri. Salah satu hobi gue mengamati perkembangan dari mesin cetak ini dari waktu ke waktu sampai saat ini malahan.

Cuma sayang gue bukan lulusan grafika yang tidak pernah tahu tentang silinder yang digunakan untuk Plat, dan cara kerja proses pewarnaan pada cetakan itu sendiri. Tapi walau lihat luarnya saja, terus terang gue suka cara mereka yang selalu membuat inovasi dan perkembangan dari waktu ke waktunya hingga sampai saat ini.

Bahkan kalau ada pameran tentang mesin cetak, maka gue biasanya hadir untuk melihat perkembangan baru dari mesin-mesin pembantu manusia ini.





Salam Kreatif,
Arie fabian

You Might Also Like

0 comments