Yang menang Pitching yang paling murah

By September 27, 2016 ,


Mari kita samakan persepsi murah, kalau buat gue sendiri diundang pitching dengan penekanan "Nanti yang menang adalah yang paling murah" gue tetep maju ke pitching itu. 

Nah cuma ada syaratnya kalau gue, untuk ikut di Pitching seperti itu maka yang biasanya gue tanya adalah barometer murahnya dulu. Kalau memang dia (yang ngundang Pitching) bilang pengen yang paling murah, maka budget yang dia miliki berapa ?

Lalu pertanyaan yang kedua adalah kebutuhan yang dia inginkan apa ? 

Baru gue biasanya compare rasio murah sama keinginannya, kalau memang masuk akal dan gue bisa mensiasati budget yang mereka miliki untuk bisa mendapatkan kualitas barang yang maksimal. Prinsipnya tetap sama, kalau punya duit 5000 sampai kapanpun gak bisa makan di MC D tapi makan diwarteg pun kalau tidak biasa masuk kedalam warteg maka uang 5000 itu juga belum tentu bisa makan enak. Jadi gue kasih unjuk deh makan dengan uang 5000 dengan menu yang sudah mengenyangkan perut dan rasanya enak. Wartegnya dimana, makanya pakai lauk apa saja, dan sebagainya. 

Kalau client tetap mau makan di MC D maka gue bilang sama dia, jalan aja sendiri ke MC D lalu pesen dan bayar sendiri. Tetap semuanya tidak bisa gaib, semua ada estimasi biayanya dan memang ada barometernya sendiri. Nah tugas gue kan memberikan arahan agar memang semuanya (dengan budget yang dia miliki) bisa dapat yang paling maksimal. Setidak-tidaknya itulah tugas gue dalam mengerjakan sebuah project. 

Hal yang pertama yang gue selalu bilang kepada client gue, bahwa gue adalah orang yang memiliki pengalaman dalam bidang yang gue geluti. Gue bukan tukang sulap yang bisa menyulap uang 50 juta maka Anda bisa mendapatkan Mobil second Toyota Innova. Tentu kita tahu, harga second mobil Toyota Innova itu sekitar mulai dari 100 jutaan, nah semuanya kan tergantung kondisinya. Sampai kapanpun gue gak akan bisa meng-iya-kan harga kalau ada orang yang punya uang 50 juta maka gue bisa janjikan toyota Innova, karena tadi gue bilang diatas, gue bukan tukang sulap. 

Kalau dibalikin gue yang punya uang Rp 50 juta lalu ada orang yang nawarin gue Kijang Innova, respon yang pertama gue miliki adalah gue curiga sama orang tersebut. Lalu gue juga akan curiga sama barang Innova tersebut, karena memang menurut gue itu hal yang tidak masuk akal. Seharusnya logika semua client juga harus seperti itu, kalau menurut gue yah. 

Kalau memang lo mau mendapatkan harga yang paling murah dari budget yang lo punya, maka yang harus lo lakukan adalah riset terlebih dahulu. Berapa pasaran barang yang lo butuhkan, harga tertinggi dengan harga yang termurah. Pelajari juga kenapa orang menjual harga yang termurah dan kenapa orang menjual harga yang tertinggi. 

Lalu bandingkan kedua barang tersebut, kalau memang sudah ada bandingkan, baru deh undang pitching orang untuk mengerjakan pekerjaan pengadaan lo. Jangan "Blind Date" , blind date yang gue maksud, udah jalanin aja dulu pitchingnya, baru nanti kita ambil harga yang paling murah, percaya deh, lo gak bakalan mendapatkan hasil yang maksimal. 

Gue pernah punya pengalaman main sama orang yang menentukan tender-tender. Gue pernah dikasih ilmunya bagaimana caranya mereka merumuskan pemenang dalam sebuah tender. Ada sebuah rumusan dari kawan gue itu adalah : 

"Harga yang paling murah akan dibuang dan harga yang paling tinggi juga akan dibuang, dan diantara itulah gue tentukan pemenang tendernya"

Kalau menurut kawan gue, harga yang paling murah sudah pasti ada permainan kualitas barang yang akan diberikan kepadanya, begitupun dengan harga yang paling mahal, karena memang sudah hampir bisa dipastikan Perusahaan manapun akan menginginkan bahwa harga yang paling murah. Tapi paling murahnya itu bukan harga yang dibawah standard kualitas. 

Nah jadi biasanya kalau memang gue ikutan sebuah pitching, maka gue akan mempertimbangkan harga yang gue kasih agar tidak yang paling murah juga yang paling mahal. Gue akan bermain dengan perbandingan harga-harga yang ada dipasaran. Tentunya dengan kualitas yang tetap harus dijaga sesuai dengan harga yang gue tawarkan kepada client gue.

Jadi intinya gue sih gak pernah takut kalau memang tantangannya dalam sebuah pitching mereka mencari yang paling murah. Gue gas terus ikutan pitching tersebut, karena buat gue kalah menang itu biasa aja. Gue tetap akan memberikan estimasi sebaik-baiknya lalu gue ikutan pitching, setelah itu kalah menang sikat aja.




Salam Kreatif, 
Arie fabian

You Might Also Like

0 comments