Sahabat Bersaudara

By November 20, 2016 ,


Siapa yang tak kenal Warkop, sudah tentunya kita semua mengenalnya, apalagi belum lama ini kita disuguhkan film yang berjudul warkop reborn. 

Sudah barang tentu gue posting tidak akan membahas permasalahan aktingnya mereka. Sudah tidak usah dibicarakan lagi kalau masalah akting dari mereka bertiga ini, mereka tetap selalu memiliki tempat dihati masyarakat kita dengan gaya dan bahasanya mereka masing-masing.

Melakukan kerjasama dalam waktu yang sangat lama itu sudah pasti akan memberikan kita sebuah pengalaman, apalagi pada saat era sekarang. Rasa kagum gue pada mereka adalah, persahabatan mereka yang terus diturunkan oleh mereka sampai saat ini dimana dua personilnya sudah pergi meninggalkan kita semua.

Mereka melakukan persahabatan yang memang sedemikian eratnya dimana mereka sering merubah kata sahabat menjadi saudara. Gue pernah dengar dari kawan-kawan yang mengaku mengenal dekat dengan mas Indro, kalau saja sampai sekarang ini mas Indro masih suka berbagi rejeki kepada keluarga mas Dono dan Kasino.

Dan kalau kita lihat pada saat launching warkop Reborn ataupun pada saat proses, maka kita bisa lihat anak-anak dari 3 sahabat ini memang sedemikian dekatnya atau sering dibilang oleh orang dengan bahasa Akur.

 
Banyak yang bilang pada saat era sekarang apa yang dilakukan oleh mereka bertiga adalah hal yang mustahil. Dimana pada saat sekarang ini, pada saat era ini, kita bisa melihat dimana orang sudah sangat senang sekali one man Show, alias individualis. Dimana kita sudah mengalami fase krisis kepercayaan, jangankan bersahabat, berteman saja sudah sangat sulit sekali.

Gue sih berasa beruntung memang lahir diera kebersamaan, ditahun 90 an, dimana pada saat jaman gue, lebih rekat persahabatan dibandingkan jaman sekarang. Kenapa demikian, karena yang gue rasakan pada saat jaman dulu itu, persahabatan gue tidak bisa dirusak oleh sosial media.

Dan kalau dibilang itu adalah hal yang mustahil, menurut gue itu masih bisa kita lakukan pada saat sekarang ini. Tinggal kita tekadkan dalam diri kita, lalu bertanya kedalam diri kita mau atau tidak.

Kalau dalam pandangan gue, hidup itu kurang asyik kalau tidak berbagi, serius deh. Gue kalau dibilang oleh beberapa kawan gue merupakan orang yang komunal, tidak bisa hidup sendiri. Loh kalau difikir-fikir lagi, siapa yang bisa hidup sendirian ? bukankah kita memang makhluk sosial ? yang satu sama lain saling membutuhkan.

Kalau memang pemikiran kita bisa kembali lagi ke era 90 an, maka kebersamaan itu seharusnya tidak mati dengan jaman yang sudah sedemikian majunya ini. Hanya saja kita memang sedang mengalami shock Therapy, karena memang kita pada saat ini sedang diuji oleh semua kemudahan-kemudahan.

Gue dapat cerita seperti dibawah ini :

SAAT DONO DAN KASINO TIDAK SALING BERTEGUR SAPA
Diambil dari kesaksian Indro, satu-satunya anggota WARKOP DKI yang masih ada:

Sebagai sebuah grup komedi, kami saling mendukung satu sama lain. Sikap ini juga kami tekankan pada anak-anak kami. "Om Kasino dan Om Dono itu ikut memberi makan kalian semua, lho," kataku pada anak-anakku. "Makanya, kalian harus hormat dan sayang pada mereka." Ya, hubungan kami memang sudah seperti keluarga sendiri. Sangat akrab dan tak ada basa-basi. Bahkan, seringkali kami sudah saling tahu apa yang hendak dikatakan sebelum yang bersangkutan ngomong. 

Namun, tiada gading yang tak retak. Seakrab-akrabnya hubungan dengan orang lain, pasti pernah ada konflik yang melanda. Begitu juga dengan kami. Tahu enggak, Mas Kasino dan Mas Dono pernah tidak saling bicara tiga tahun lamanya? 

Keduanya pernah saling tidak bertutur sapa selama hampir tiga tahun. Indro enggan merinci siapa yang pertamakalinya ngambek namun masalah itu dipicu oleh ucapan Kasino yang kebablasan terhadap Dono karena mengetik terlalu keras sehingga secara spontan Kasino ngomong kalau mengetik jangan pakai gigi.

"Karena memang Dono mempunyai kebiasaan menulis, almarhum Kasino sampai hapal betul suara ketikan Dono karena sangat keras. Mungkin karena spontan langsung nyeletuk, kalau ngetik pake tangan gak pakai gigi," ungkap Indro.

Akar pertikaiannya sebenarnya sederhana saja. Sebagai seniman sejati, Mas Dono ingin bisa berekspresi lewat berbagai pentas seni. Salah satunya adalah menyutradarai teledrama Balada Paijo. Namun, Mas Kasino menganggap langkah Mas Dono ini menyalahi strategi pemasaran Warkop. 

Menurut Mas Kasino, yang memang paling jeli otak jualannya, apa yang dilakukan Mas Dono sama saja dengan mengumbar Warkop. Mas Dono sendiri tidak bisa menerima pendapat Mas Kasino. Dua-duanya sama-sama keras mempertahankan pendapat. Akhirnya, persoalan ini diselesaikan dengan cara khas Jawa yaitu jothakan alias saling mendiamkan. 

Yang jadi pokok permasalahan di perselisihan ini adalah sifat. Menurut Indro, Kasino itu sifatnya bos banget. Dia tuh semuanya tertata. Strategi pemasarannya, seperti apa kita harus bersikap, penentuan harga. Makanya sampai sekarang Warkop itu nggak punya musuh.

Sedangkan Dono menurut Indro adalah seorang seniman sejati. Dia dosen, orang yang suka berbagi. Nggak ada hitung-hitungannya. Dia kalau lagi meledak-meledak, ya meledak-meledak.

Inti perselisihan tersebut adalah, Dono itu seniman dan Kasino pengusaha. Kalo orang bilang, kedua jenis ini susah untuk dipertemukan. Kalau pengusaha menguasai seniman, merasa mereka dikuasai kapitalis. Sementara pengusaha nggak bisa dikuasai seniman.

Tapi begitu Kasino sadar betul dia di Warkop menjadi seperti ini, tidak ada apa-apanya tanpa Dono dan Indro. Dono juga dengan segala kesadaran tidak ada apa-apanya tanpa Kasino dan Indro. Akhirnya mereka berbaikan dan mengatasi segala perbedaan mereka.

Pada waktu Kasino ada masalah dengan Dono selama tiga tahun, Jangan dipikir mereka jadi benci. Indro menuturkan bahwa pada saat itu, apabila ada yang menjelek-jelekkan Dono didepan Kasino, kasino akan marah. Begitu juga sebalikna. Dan, kalau Mas Kasino mendengar Mas Dono sedang sakit, ia pasti bilang padaku, "Ndro, tolong tengokin Mas Dono, ya! Kasih tahu aku, bagaimana kabar dia." Begitu juga sebaliknya. Sungguh suatu team yang solid dan bisa kita katakan bersama bahwa Warkop DKI adalah sebuah team yang profesional.

Untungnya, sikap saling mendiamkan ini tidak tampak dalam pekerjaan sehari-hari. Saat syuting atau tampil di atas panggung, mereka berdua tetap berkomunikasi dan menghasilkan lawakan segar. Itu sebabnya, tak banyak orang tahu tentang perselisihan ini. Bahkan menurut Indro, istri Dono dan Kasino pun tidak tahu bahwa mereka sedang berantem.

Lama-lama aku tak tahan dengan gerakan tutup mulut ini. Bayangkan, tiga tahun lamanya aku berada di antara orang yang saling mendiamkan. Lama sekali, kan? Akhirnya aku capek. Aku nekat muncul sendirian. Hampir setiap kali bank di Jakarta punya acara, aku jadi MC-nya. 

Sengaja, aku cuek pada Mas Dono, Mas Kasino dan perkembangan Warkop. Untung, akhirnya mereka sadar bahwa yang kulakukan itu adalah bentuk protes terhadap mereka. 

Kami bertiga lalu sepakat untuk membicarakan masalah ini di Sroto Sokaraja, Pasar Seni, Ancol, tempat nongkrong favorit kami bertiga. 

Di tempat itu, kami kembali mengingat betapa kami ini bukan apa-apa tanpa Warkop. Seorang Indro pun belum tentu bisa jadi begini tanpa Mas Dono dan Mas Kasino. Begitu juga Mas Dono dan Mas Kasino. Didera rasa haru, rindu dan sesal, kami bertiga pun bertangis-tangisan. Sudah dapat dipastikan bahwa esok harinya, kami berangkat kerja dengan semangat baru!

Mereka tetap ada fase dimana mereka pun di uji oleh waktu. Pada saat dimana mereka memiliki masalah dan kalau melihat cerita diatas itu rentang waktu selama 3 tahun. Dan mereka akhirnya bisa berangkulan lagi karena memang mereka memiliki rasa kebersamaan. 

Gue selalu berusaha berkawan dan bersahabat oleh orang-orang yang memiliki semangat kebersamaan dalam membangun apapun yang ingin kita bangun bersama. Membuat karya dengan kebersamaan itu indah, dan hasilnya akan luar biasa. 

Yang pintar sabar membimbing yang belum pintar, yang bisa sabar memberikan jalan bagi yang belum bisa, dan yang sangat beruntung mau berbagi kepada yang belum beruntung. Tinggi itu untuk menunduk dan rendah itu bukan sesuatu yang harus dikecewakan. Rendah akan beruntung bertemu dengan tinggi karena dengan si Tinggi si Rendah akan lebih mudah menggapai segala sesuatunya.

Ada dan tidak ada seharusnya bukan menjadi sebuah masalah yang penting. Ada yah harus memberi dan kalau tidak ada kita bisa saling bekerja sama membuat sebuah pemerataan. Sama halnya yang seperti Indro lakukan kepada kedua keluarga sahabatnya. Itulah yang membuat gue kagum dengan sosok Indro. Ia merupakan seorang seniman yang bisa memberikan inspirasi kebersamaan kepada kita semua.

Pada saat jaman gue dulu, gue merasa semangat kemerdekaan Indonesia itu terus ditularkan. Perihal yang didoktrin didalam otak gue adalah, kita bisa Merdeka karena memang kita bersatu, Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Lewat pendidikan Moral Pancasila, selalu hangat kita dibuat dalam bermasyarakat.

Menurut gue PMP itu adalah modal dasar kita dalam menjalani hidup bernegara dan bermasyarakat pada saat jaman dahulu kala. Dan pada saat sekarang ini yang gue bingungkan kenapa itu malah ditiadakan. Karena memang Moral lebih penting daripada kecerdasan, karena memang moral harusnya diatas segala-galanya.

Dengan Moral itulah kita bisa melebur semua agama karena memang semua agama sudah pasti mengajarkan tentang moral. Tapi itu sekarang telah menghilang, Dimana kita sekarang hidup sudah hampir banyak kekurangan pegangan untuk membangun kebersamaan.

Jangan asal eksis tapi memang tidak mengerti jati diri kita sendiri. Jangan bangga dengan apa yang bukan menjadi milik Anda. Tapi banggalah selalu dengan yang kita miliki bersama, yaitu kemajemukan. Dimana kita memang memiliki peradaban yang paling tua, dengan kekayaan kebudayaan yang sangat luar biasa.

Dan sekali lagi menurut gue kita masih bisa bangkit bersama. Gue yakin banget kok, karena memang kita sudah memiliki dasar yang sangat kuat sebelumnya. Gue selalu berpegangan kepada kalimat, kalau kita ingin kaya tapi tidak membawa manfaat bagi sekitarnya, mending gue gak usah kaya lah. Dibanding gue akan selalu kufur sama nikmat yang diberikan oleh sang Khalik.

Jadi mari kita bangun kebersamaan melalui semangat, karya dan apapun yang kita bisa. Rukun bukan merupakan hal yang sangat sulit kita bentuk, kalau memang kita bisa menyadari dari sekarang. Membangun sesuatu agar bisa memberikan sesuatu, itulah yang harusnya kita tanamkan selalu.

Selamat berhari minggu kawan-kawan pembaca blog gue.





Salam Kreatif,
Arie fabian

You Might Also Like

0 comments