Mari Kita Saling Respect (menghargai) dan Menjaga Etik

By February 03, 2017 ,


Kata menghargai seolah-olah sudah hilang didalam kamus Bahasa Indonesia. Dimana kita terkadang selalu berfikir kalau memang hidup ini hanya untuk hari ini. 



Padahal hidup hari ini adalah yang menentukan untuk hari esok dan lusa. Rasanya gue melihat sekarang semua sedang berlomba-lomba untuk membandingkan pandangan, cara, sikap dan sebagainya dari dirinya kepada orang lain. 

Agak bingung sekarang kita menemukan respect agar kita bisa menjadi saling menghargai. Gue sangat menyayangkan sekali, kalau ada dua kebenaran diadu dan salah satu yang mempertentangkan kebenarannya ingin bahwa kebenarannya yang paling benar, akhirnya kedua-duanya sedang tidak mengerjakan kebenarannya. Padahal kalau kedua-duanya cukup mengerjakan saja kebenarannya, maka akan ada dua kebenaran yang akan terjadi. 

Tapi karena mereka terlalu sibuk membandingkan antara kebenaran yang dia miliki dengan orang lain miliki, maka dia sedang tidak mengerjakan kebenaran. Malah gue jadi langsung ambil kesimpulan, jangan-jangan dia sendiri ragu akan kebenaran yang dia adu-adukan kepada orang lain, karena akhirnya dia hanya mempertentangkan saja kebenaran yang dia miliki kepada orang lain.

Ketika kita sudah bisa bebas berbicara, maka yang ada kita terlalu sibuk minta pengakuan. Kita terlalu sibuk dengan eksistensi yang kadang malah sebenarnya dia menghilangkan eksistensi itu sendiri. Karena kalau orang sudah akhirnya membenci dirinya, maka biasanya orang lain akan menganggap dirinya tidak ada. Pengen jadi 1 malah hasilnya sama dengan 0. 

Begitupun dengan berdagang maupun berbisnis. Gue sempet baca status kawan di FB yang berbicara tentang kode etik, dan memang rasanya kita sudah mulai kehilangan itu juga. Dimana kawan itu menuliskan kalimat : 

1. Jangan pernah bertanya tentang resep kue kepada pedagang kue, Karena dia sudah susah payah mencari, meracik dan meramu kuenya sampai akhirnya dia bisa percaya diri untuk menjualnya. Kalau kita membutuhkan kuenya sebenarnya kita bisa pesan saja kepada dia. Bukan malah copas dan buka usaha yang sama. 

2. Jangan bertanya detil tentang dimana tempat kulakan dia membeli barang dagangannya. Karena memang sesungguhnya dia sudah mencari kesana kemari tempat kulakan yang termurah dan ternyaman, sehingga akhirnya dia berani berjualan. Dia jungkir balik mencari tempat itu, kok sampai hati ada orang yang bertanya dimana tempat kulakannya. 

3. Jangan menjelekkan barang dagangan didepan orang banyak. Karena memang sesungguhnya dia sudah berusaha untuk menjual yang terbaik, kalau memang tidak cocok dengan barang tersebut lebih bijak mencari ditempat yang lain tanpa meninggalkan sikap yang buruk kepada pedagang itu. Karena memang selera pasti berbeda-beda, barang tentu ada orang lain yang tidak selalu sama seleranya dengan Anda dan membutuhkan barang tersebut. 

4. Jangan berhutang kepada pedagang, karena memang sesungguhnya dia berdagang untuk mencari nafkah. 

(sumber : tri mellyasari) 

4 perihal diatas sudah sangat langka pada saat ini. Dimana kita biasa melihat semua orang seolah-olah merasa bisa melakukan semua hal dan akhirnya dia seolah-olah tidak membutuhkan orang yang berdagang. Sehingga rantai pedagang saat ini mulai putus karena memang akhirnya pedagang hanyalah dianggap merugikan buat sebagian orang. 

Padahal kita bisa melihat begitu indahnya rantai tersebut, dengan begitu maka kita akan bisa saling berbagi akhirnya. Kenapa kita terlalu merasa dirugikan ketika kita beli dagangan tetangga kita yang seumpamanya kita tahu dia ambil selisih beberapa ribu rupiah. Kita selalu berfikir, mendingan ketempat kulakannya saja karena  harganya pasti bisa lebih murah. 

Kenapa kita lupa dengan rantai rezeki kita, dimana disetiap rezeki yang kita peroleh masih terdapat rezeki orang lain didalamnya. Kenapa kita berfikir bahwa kita rugi kalau menguntungkan tetangga kita padahal uang lebihan yang kita berikan bisa menghidupi anak-anaknya dia. 

Itu kenapa gue bilang kata "respect" (menghargai) sudah sangat susah sekali saat ini kita temukan. Kita sudah semakin tidak peduli, selalu ingin untung sendiri dan kadang ceroboh dalam mensyukuri rezeki yang sudah diberikan kepada kita. Kita bekerja pasti ingin untung, alias pengeluaran yang dikeluarkan untuk ongkos dan operasional kita tidak lebih besar dari gaji yang kita terima. Itu sudah pasti berfikir tentang untung. 

Lalu orang selain kita tidak boleh mendapatkan untung. Jadi untung itu harus untuk kita semua, maka sesungguhnya dia sedang merugi. Karena memang akhrinya dia tidak mendapatkan proses dialektika antara dia dengan tetangganya, kawannya dan orang yang akan dibantunya. Akhirnya dia berjalan seperti orang yang memang sedang kufur nikmat. Bahwa nikmat yang diberikan dari sang Kuasa harus hanya untuk dirinya. 

Mudah-mudahan berangsur-angsur Respect segera ditemukan kembali agar kita sebagai orang timur dan Bangsa Indonesia akan kembali kepada kodratnya. Yaitu bisa saling menghargai. Ketika kita mengupas dan memakan jeruk dan kita rasa manis, maka sudah seharusnya kita tidak memperdebatkan kata manis itu lagi. Cukup kita makan, maka manis itu akan kita rasakan sendiri. Ketika jeruk itu kita berikan kepada orang lain dengan harapan orang lain itu bisa mentermahkan rasa manis yang sama dengan kita, maka itu adalah hal yang tidak perlu diperdebatkan. Lebih baik tawarkan dan cukup dengarkan. Kalau dia bilang kurang manis, maka kita tidak usah berdebat kalau yang kita rasakan adalah manis. 

Begitu pula dengan menjaga rantai usaha, mudah-mudahan kedepan kita bisa menjaga agar mereka tidak punah. Usaha itu milik siapa saja, bukan hanya bisa dilakukan oleh orang yang bermodal besar (Kapitalis). Maka kalau memang ingin menjaga ekosistem usaha, maka mulailah dari menghargai usaha-usaha kecil. Hingga akhirnya setiap orang bisa memutarkan uang kecilnya, bisa merasakan keuntungan sesuai yang dia butuhkan, sehingga orang tidak melampaui batas hanya untuk berjuang menafkahi istri dan anak-anaknya. 

Karena kalau memang ekosistemnya sudah dirusak, semua orang sudah tidak peduli lagi dengan para pengusaha yang bermodalkan kecil, maka para pengusaha itu tinggal orang-orang yang hanya memiliki modal besar. Dengan begitu orang kecil akhirnya hanya bisa menjadi buruh ditanahnya sendiri. Bahkan yang tidak kuat dengan tekanannya dia akan melakukan tindakan yang kriminal demi menghidupi anak istrinya. 

Sudah saatnya kita melawan pemikiran-pemikiran yang hanya dapat menghabiskan energi kita atau hanya membuat orang lain tidak bisa bertahan karena memang kita tidak bisa menghargainya.





Salam Kreatif, 
Arie fabian

You Might Also Like

0 comments