Tekuni saja yang kita jalani

By August 17, 2017 ,


Awal Januari lalu gue inget bener, dimana sepupu gue mengajak gue untuk pindah bisnis. Dia mengarahkan kepada gue untuk pindah kepada bidang property. Gue tau bener dengan persis dan akurat, property memang sedang happening dan memang  bicaranya selalu untung. 

Dia menjelaskan, bahwa dengan bermain property maka kita akan CEPAT KAYA. Maka akan gue garis bawahi kata cepat kaya dengan huruf besar semua dan huruf tebal. Dia mengajarkan kepada gue, didalam bisnis property tersebut. Dengan cara mencari lahan, lalu mencari investor, membangun beberapa rumah menjadikan cluster.

Keuntungannya akan berlipat-lipat dari modal yang kita keluarkan. Dengan begitu maka investor akan senang ketika kita janjikan pengembalian uang dengan lebihan presentase sampai dengan 30%. Lalu dia bicarakan lagi, dengan bisnis ini maka bila kita ingin memiliki rumah, maka impian itu semakin dekat.

Kalau kita menggarap beberap ribu meter tanah lalu menjadikannya beberapa cluster, keuntungannya bisa kita dapat 3 rumah dari sisa penjualan. Setelah rumah jadi, seumpamanya dalam lahan 1200 meter, kita bangun rumah dengan luas 50 meter satu rumah saja, kurang lebih kita bisa membangun 20 rumahan sudah dengan fasum yang kita buat, maka satu rumah saja kita ambil kita tidak rugi..

Menggiurkan, tapi jawaban gue adalah tidak.

Gue selalu percaya bahwa segala sesuatu yang instan tidak akan jadi yang maksimal. Dia dari orang IT, yang memang gue tahu persis baru nyemplung keranah property ini baru 2 tahunan. Gue gak yakin sudah banyak yang dikuasai dalam bidang tersebut.

Bermain property itu sama dengan kita membenturkan diri kepada birokrasi, hukum dan hitungan yang cermat. Bukan sembarangan kalau kita berbicara birokrasi dan hukum dinegara kita. Dimana kita memang harus bisa koordinasi dengan orang-orang yang terkait dibidangnya.

Terlalu banyak sekali rentetan ketidak tahuan gue pada bidang ini. Dan yang jelas, ini adalah bentuk usaha pengadaan barang. Dimana kita harus jeli melihat dan menghitung bahan baku, dari belum jadi rumah sampai dengan rumah berdiri. Jangankan bikin rumah untuk orang lain, renovasi rumah sendiri aja selalu meleset hitungannya.

Kalau gue mau renovasi rumah gue siapkan budget 50 juta, maka biasanya habisnya lebih dari 50 juta. Karena memang gue nggak teliti dan memang selalu berfikir untuk menjadi lebih baik. Jadi dari landasan itu gue gak berani main-main dengan bisnis ini (property).

Ekspansi bisnis memang tidak ada salahnya, apabila memang kita sangat menguasai bidangnya. Menguasai itu bukan hanya sekedar kulit luar, melainkan sampai kedalam dan mengkupas kulitnya. Gue menjalani bisnis advertising dan desain kurang lebih sudah hampir 20 tahun, ini aja masih sangat penasaran bagaimana meletakkan brand secara konsisten. Buat gue sendiri pada bidang gue aja belum finish, dan gue gak akan ekspansi kemana-mana dulu.

Gue bukan orang yang mudah untuk pindah kelain bidang walaupun terdengar itu syarat profit dan dijanjikan untung besar. Karena didalam bisnis itu bukan hanya untung besar yang gue kejar, akan tetapi ilmu yang bermanfaat yang kadang lebih gue butuhkan dari pada untung besar.

Sekarang pada bulan ini, sepupu gue datang lagi ketempat gue untuk mencari pinjaman uang dengan jaminan sertifikat tanahnya. Pinjaman yang dia inginkan adalah 300 jutaan.

WHAT ?

Gue langsung bertanya-tanya dalam hati, bukankah dia bilang ini syarat dengan untung besar, bukankah dia bilang property itu menjanjikan.

Lalu gue simaklah ceritanya, ternyata didalam pengelolaan tanah 200 meter untuk dibangun 4 rumah, dia melaksanakan pekerjaan tanpa kontrak sama sekali. Yang akhirnya perjanjian harga tanah tersebut bisa bergerak semau-maunya orang yang memiliki tanah. Sudah bergerak ketiga kalinya, sepupu gue sampai saat ini belum juga membuatkan kontrak.

Mengabaikan kontrak dengan takut keluar uang untuk Notaris, itu sudah merupakan kesalahan yang sangat fatal kalau menurut gue. Dimana bukti kontrak yang tidak jelas pada aset yang sangat besar seperti tanah ini sangat dagelan banget.

Sekarang kejadiannya dia malah rugi hampir 400 juta, dan dia memohon untuk mencarikan bank atau BPR yang bisa menerima surat tanahnya dia untuk mengeluarkan pinjaman.

Kenapa dia tidak bisa jalan sendiri ke Bank atau BPR, karena memang dia sudah kena BI checking, jadi dia ingin menggunakan nama gue dengan nanti gue balik nama dulu surat rumahnya.

Inilah yang gue bilang kita hanya senang informasi itu sampai kekuping saja. Dimana dibisikkan untung besar maka otak lupa berfikir. Risk tidak difikirkan, kendala-kendala lainnya dikesampingkan, berharap dia bisa lakukan dengan cara "learning by doing".

Kalau usaha itu sifatnya jasa menggunakan cara learning by doing masih sangat kecil resikonya. Kalau sudah wujudnya barang, maka gue sarankan jangan coba-coba. Kalau memang rugi, maka akan besar kerugian yang ditanggung.

Tekun saja dengan apa yang kita kerjakan saat ini, karena kalau kita hanya berpindah-pindah kita tidak akan pernah sampai digaris finsih. Setiap kali pindah maka kita ganti garis start dan sudah pasti garis finish juga akan berpindah. Sayang kalau kita sudah lari 3/4 jalan lalu kembali lagi kegaris start yang baru.

Kalau saat ini belum berhasil, itu tandanya bukan gagal selamanya. Waktunya belum pas, tapi jalan kegaris finish sudah semakin dekat. Jangan kembali lagi kegarus strart. Sekalipun Anda diiming-imingi oleh orang yang memang ahli pada bidangnya.

Kalau ada orang ahli datang ke gue dan meminta modal untuk bekerja sama membangun sesuatu, maka gue gak akan pernah percaya. Kalau memang dia ahli kenapa dia harus minta kerja sama dengan gue. Dengan keahliannya pasti dia sudah bisa jalan sendiri. Kenapa butuh gue ?

Simple aja, kalau gue.

Kalau dia ahli tidak bisa bangun sendiri maka namanya itu bukan ahli. Yang gue bicarakan kali ini bukan berarti gue bilang bisnis property itu buruk. Tidak, bahkan tidak sama sekali. Gue yakin bisnis apapuin itu baik dan bagus, ASAL, lo lakukan sesuai dengan passion lo dan yang pertama jangan sekali-sekali membuat perencanaan bisnis untung dulu yang difiirin. Dibalik paradigmanya, gimana kalau rugi.

Kalau memang untung mah gak usah lagi difikirin, tapi bagaimana kalau rugi. Lalu yang kedua adalah risk, sarana dan prasarana, serta segalanya yang menunjang dari bisnis itu sendiri.




Salam Kreatif, 
Arie fabian 


Base on Experience ....


You Might Also Like

0 comments