Kolaborasi

April 25, 2018


Ada apa dengan kolaborasi, kenapa kita harus berkolaborasi ?

Dunia sudah semakin bergerak cepat, salah satunya adalah melahirkan internet mebuat kita dapat berkenalan dengan siapa saja tanpa sekat. Dulu apapun masih terbatas, dibatasi oleh ruang dan waktu. Dibatasi oleh sekat-sekat wilayah, keterbatasan sangat terasa sekali. 

Tapi untuk saat sekarang ini, apa yang gak bisa kita cari tahu, apa yang tidak bisa kita pelajari, dan apa yang tidak bisa kita dapatkan, hanya dengan mengetik tombol pada handphone kita maka kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan. 

Karena semakin mudah itulah, buat gue berasa yakin, kalau kita memang harus melakukan kerja sama dengan banyak orang. Kita harus melakukan kolaborasi dengan siapapun. Dan setelah gue bertemu dengan beberapa orang diluar sana, ternyata keinginan itu sama, berkolaborasi. 

Kita tidak bisa lagi memasang harga lebih mahal pada produk kita, sedangkan harga barang produk yang sama dengan produk kita ramai dibuka dimedia internet. Gue terus melakukan riset dan pendalaman tentang menjadi seorang reseller tanpa harus investasi barang. 

Satu-satunya jalan yang gue temui adalah gue harus keluar ketempat kompetitor-kompetitor gue untuk berkawan dan berkolaborasi dengan mereka. Mulai menganggap mereka kawan bukan lawan, mulai mengajak mereka untuk ikut bekerja sama dalam event ataupun dalam pekerjaan yang sedang gue kerjakan, dan alhamdulillah hasilnya baik. 

Hubungan emosional sekarang sangat dibutuhkan pada saat sekarang ini adalah tatap muka. Dimana kita bisa lebih dekat kita memang bisa saling bertatap muka. Selebihnya memang bisa dimaintanance dengan cara ketemuan pada media online. 

Media internet memang sudah sedemikian membuat kita sangat mudah dalam berkomunikasi. Tapi banyak pula yang mereka lupakan, esensi berkawan adalah sebuah pertemuan. Sebuah sesi tatap muka, melihat ekspresi asli (bukan palsu seperti pada saat kita video call). 

Buat gue, ketika kita datang berkunjung ketempat kawan kita, maka kita akan melihat kawan kita menyediakan waktu untuk kita agar kita bisa berbincang. Berbeda sekali ketika kita sedang video call. Berbeda sekali ketika kita whats app, berbeda sekali ketika kita menggunakan semua aplikasi yang ada pada media sosial. 

Pada saat kita berkunjung ketempat kawan kita, maka kawan kita akan menyediakan perhatiannya khusus dengan kita. Tanpa ada yang mengganggu untuk berbincang-bincang. Ekspresi lepas, ekspresi bahagia yang sangat berbeda apabila kita lakukan dengan sosial media. 

Maka dari itu, untuk menghadikan sebuah kerjasama yang serius, gue biasanya main, sempatin mampir ataupun memang membuat janji untuk bertemu sekedar berbincang santai. Dan dari sana gue bisa mengajak kepada mereka untuk membuat sebuah kerjasama lebih baik lagi. Kita akan mendapatkan hubungan emosional yang sangat berbeda dibanding kita lakukan dengan sosial media. 

Dan alhasil seperti yang gue tulis pada facebook fanpage gue, seorang kawan bingung setengah mati ketika gue pitching pada sebuah perusahaan dan lawan (kompetitor) gue adalah vendor langsung, gue bisa menang. 

Gue bilang sama dia, kalau itulah salah satu keuntungan dari kolaborasi. Gue bisa dapetin harga dibawah vendor langsung karena yang gue dapatkan adalah marketing fee dari vendor gue. Gue tinggal kurangin aja discount yang dikasih kegue, dan beres deh. Tinggal gue kejar kuantitas aja untuk memperbanyak profit. 

Alhamdulillah tentang vendoran pada bidang yang gue jalani gue cukup mengetahuinya. Mulai dari rate yang paling bawah sampai dengan rate yang paling atas. Tinggal kita adu pada kelas yang sama maka gue bisa tahu vendor mana yang lebih murah. 

Itulah cadasnya kolaborasi. Dimana kita bisa mengabarkan kepada kawan-kawan gue untuk meminta bantuan mereka karena gue lagi pitching di Perusahaan A,B,C dan seterusnya. Mereka dengan senang membantu gue, karena ini semua kan mutual simbiosis. Gue jualan produk gue, kalau memang ada permintaan dari client tentang produk kawan-kawan gue, maka biasanya gue juga ikut menjualkan. Dengan begitu maka gue membantu dia untuk berjualan dan gue pun dapat sedikit keuntungan dari menjualkan produk dia, bahasanya fee marketing.

Jadi kalau banyak orang menganggap kompetitor itu musuh, buat gue kompetitor bukan musuh. Gue harus tahu, gue harus kenal, dan gue harus datengin ketempat dia. Karena buat gue, kompetitor kita bisa aja kelebihan pekerjaan, dan akhirnya pekerjaannya dikasihkan kegue dan itu sering banget loh. 

Dengan begitu maka gue punya teman pada bidang yang sama yah cukup lumayan banyak. Padahal kompetitor. Kadang gue belajar banyak dari kompetitor yang memang sudah sangat senior. Belajar dari anak-anak muda yang baru membangun, dan belajar dari apapun yang gue datangin. Pasti aja, kalau gue datang kesebuah tempat disana ada ilmu yang bisa gue pelajari, sekalipun itu dengan anak-anak muda yang baru membangun. 

Untuk anak-anak muda biasanya mereka memiliki semangat yang luar biasa, teknik yang kekinian dalam bidang apapun, inovasinya masih menggebu-gebu, wah seru deh. Kalau dengan senior, kecenderungan berhati-hati sangatlah mahir. Karena memang mereka sudah banyak sekali pengalaman bertemu dengan jenis-jenis orang. Mereka cenderung lebih hati-hati, dan sangat berhitung dengan baik. 

Itulah untungnya berkolaborasi, yuk kita kolaborasi .... 





Salam Kreatif, 
Arie fabian 

You Might Also Like

0 comments

Like me on Facebook