Visual Desainer dan Deadline

December 08, 2018

Bekerja jadi Visual Desainer itu unik. Jangan bercita-cita jadi desainer deh (biar pada gak mau, ;)) kalau berharap hidup normal. 

Sekilas kalau kita melihat tampilan (look) dari desainer pasti keren-keren, modis-modis, dan bahkan beberapa anak muda bercita-cita menjadi desainer. Gak ada yang salah dengan desainer, tapi beberapa anak muda yang pada akhirnya ngomong begini nih "gila yah, gue baru tidur sejam bang" dan gue biasanya ketawa terbahak-bahak. 

DEADLINE, itu merupakan satu kata yang memang sangat menakutkan. Seperti membela negara, kalau sudah NKRI yah harus dijaga jam berapa pun Negara ini diserang. Itu tuh... kayak gitu deadline. Kalau udah dibilang deadline maka itu harus diselesaikan, seolah-olah angka yang ada di arloji kita itu tidak ada gunanya.

Nah, kalau itu memang biasanya ada momentnya. Biasanya moment akhir tahun, dan pertengahan tahun. Di moment akhir tahun biasanya banyak perusahaan yang menghabiskan dana promosinya untuk melakukan activity lewat medium event.

Akhir tahun juga biasanya mulai berdatangan pekerjaan Annual Report Perusahaan. Pembuatan desain untuk Kalender, dan memang pembuatan material promosi yang akan dibagikan perusahaan untuk tahun berikutnya.

Itu sudah pasti deh, desainer lembur-lembur dikantor, karena harus menyelesaikan pekerjaan yang biasanya membludak.

LO KAPOK RIE ? 
Kalau gue jujurnya sangat menyenangi pekerjaan yang seperti ini. Mengerjakan hal yang kebanyakan orang bilang itu tidak mungkin, maka biasanya gue tertantang tuh untuk menyelesaikannya. Alhamdulillah sih sampai saat ini team gue masih solid dari awal. Jadi gue sih gak kapok.

Dan gue juga gak bilang menjadi desainer itu sebuah pekerjaan yang buruk. Bagus banget, melattih kita membuat jadwal yang benar, melatih kita merangkai step by step dengan benar, menguji teori kita dengan baik, karena semua itu sangat berguna sekali pada semua pekerja kreatif gue yakin, bukan hanya desainer saja.

Apalagi buat desainer freelance, itu buat gue jauh lebih menantang dibandingkan dengan desainer yang bekerja kepada agency. Terkadang gue suka salut banget, buat para freelancer desainer yang memang gigih dalam menjalankan pekerjaannya. Dimana dia yang membranding dirinya sendiri, memasarkan portofolionya sendiri pada sosial media biasanya, menawarkan jasanya kepada kawan-kawannya, dan mengerjakan pekerjaannya sendiri. Luar biasa bukan ?

Jadi desainer itu menurut gue seru banget. Udah seru pakai banget lagi, jadi kebayangkan. Bahkan gue sekarang rindu deadline yang mustahil. Dikasih waktu membuat desain dalam waktu yang cepat, mengerjakan pembuatan gambar kerja untuk layout event, mengerjakan pembuatan VT untuk event dan sebagainya.

Dimana itu memang udah makanan gue sehari-hari untuk mengerjakannya. Dan gue punya team yang nggak berkurang malah bertambah. Awalnya mereka bilang gila kalau kerja menjadi team gue, tapi akhirnya mereka pada ketagihan, gue juga bingung.

Kalau memang metodenya benar, seberapa cepat waktu yang diinginkan oleh client sudah pasti kita bisa kerjakan. Dan memang biasanya gue bilang sama client, dalam waktu yang singkat ini maka ada beberapa resiko yang akan terjadi, ada beberapa hasil yang kurang sempurna, dan biasanya klien itu mengerti kok kalau memang kita bisa menjelaskannya.

Maka dari itu, setiap deadline yang super cepat yang diberikan oleh klien gue, biasanya team gue cuma senyum aja ketika gue iyakan pekerjaannya. Karena memang mereka tahu, gue pasti punya metode untuk mengerjakannya. Gue pasti punya cara untuk menyelesaikan pekerjaan itu.

Nah, jadi yang paling penting adalah mapping cara penyelesaiannya. Kalau semuanya sudah di Mapping, harusnya sih kita bisa mengerjakan tepat waktu, asal jangan MALAS. Kalau sudah yang namanya MALAS, buat gue itu udah gak ada obatnya deh.

Masih mau jadi desainer ?



Salam Kreatif,
#ariefabian

You Might Also Like

0 comments

Like me on Facebook