Gak usah takut karya lo dibilang Jelek


Dalam perihal membuat sebuah karya, kita terkadang melihat sebuah barometer dengan apa yang kita lihat, kita baca, kita dengar. Bahwa saja apa yang kita dengar, sebuah karya haruslah berdiri tegak dengan satu kata yang ada didalam benak lo, KEREN. 
Terkadang kita lupa, bahwa apa yang kita lihat merupakan hasil dari pencapaian sang pembuat karya yang sudah ke seratus berapa, dia bukan membuat sebuah karya yang pertama kalinya, dan kita menganggapnya itu adalah sebuah karya pertama dan kita langsung mendefinisikan kepada diri kita, gila dia bakat yah, apa yang dia buat selalu keren-keren. 

Hanya sebatas itu, tanpa pernah mau tahu, orang yang buat karya itu siapa, dan bagaimana pencapaian dan kegagalannya. Sehingga, pada saat kita membuat sebuah karya, dan hasilnya dibilang jelek, maka mental kita langsung drop, dan berbicara dalam hati kita, Anjir, gue gak bakat ternyata dibidang ini. 

ITU ADALAH SALAH BESAR.

Bisa jadi bukan karena lo gak bakat, melainkan itu adalah sebuah karya pertama lo yang belum sama sekali memiliki experience apa-apa. Sebuah karya yang baik pada akhirnya, pasti terbuat dari sebuah pengalaman-pengalaman yang tumbuh bersama karya itu sendiri. 

Tidak serta merta mereka membuat bisa mendapatkan bagus, walaupun ada yang terkadang yang seperti itu. Akan tetapi, setelah gue menjalani beberapa lama didalam membuat sebuah pencapaian, pengalaman memang memiliki pengaruh yang besar didalam mencapai sebuah pencapaiannya. 

Lo memang harus memiliki pengalaman yang sama dengan kepada siapa lo menyampaikan pesan didalam karya lo. Satu frekwensi yang sama kalau menurut gue sih. Jadi dengan begitu kita bisa mengetahui, pesan apa yang mereka butuhkan sebenarnya, baru setelah itu lo balut didalam karya yang lo buat. 

Setidaknya itulah yang akhirnya membuat tumbuh didalam setiap karya lo buat untuk orang lain. Tapi ingat, didalam sekali membuat karya, jangan pernah kita langsung memvonis diri kita sendiri, bahwa kita tidak akan pernah bisa mencapai seperti apa yang kita lihat. Karena dengan kita memvonis diri kita sendiri, kita hanya melemahkan diri kita sendiri. 

Kalau memang belum bisa sesuai dengan apa yang lo harapkan pada saat sebuah karya lo yang sudah lo buat, maka cobalah cari tahu, riset, kenapa dan kurangnya apa. Kalau bisa, undang orang lain untuk ikut berkomentar pada karya lo tersebut. Sebanyak-banyaknya, sampai lo akhirnya menemukan jawaban. Lalu, coba lagi, coba lagi, lagi dan lagi. Sampai akhirnya lo bisa meraih apa yang inginkan didalam karya yang lo buat. 

Kegagalan yang pertama kali akan menjadi sebuah pelajaran yang baik, menjadi pengalaman yang sangat berharga, untuk menjadi bekal kita untuk melakukan pembuatan sebuah karya yang kedua. Pada saat pembuatan karya yang kedua, maka harusnya sudah mulai terjadi peningkatan secara pencapaian yang lo buat. Sekali lagi, kalau memang belum sempurnya dan sesuai dengan apa yang lo inginkan, maka jawabannya adalah kejar sampai jadi seperti yang lo inginkan. Bukan berhenti. 

Kalau segala sesuatunya lo sudah memvonis diri lo sendiri pada saat percobaan yang pertama, maka lo ganti membuat apapun, lo akan mendapatkan hasil yang kurang lebih sama. Dan lo akhirnya hanya berputar diranah percobaan-percobaan baru yang tidak ada hentinya. 

Setelah karya yang kita buat sudah mulai membaik, Anda berharap semua orang harus bilang bahwa karya Anda itu bagus, itu sangatlah tidak baik, kalau menurut gue. Kita tetap saja akan menemukan orang yang complain, orang yang bilang karya kita itu jelek dan sebagainya. Tapi kalau menurut gue itu bukan hal yang patut lo dengarkan. 

Ada tipikal orang yang memang hobinya hanya mencaci karya orang lain, padahal dia tidak membuat apa-apa, dia tidak melakukan apa-apa, karena saking sibuknya dia mencari kesalahan-kesalahan pada karya orang lain, akhirnya dia tidak membuat apa-apa. Jangan deh kalau menurut gue jadi orang kayak gini, karena waktu kita akan habis hanya untuk mengkoreksi orang lain. 

Dan juga, kalau gue, buat orang yang jenisnya begini, gue gak mau dengerin. Bukan gak mau dikritik, dibilang jelek buat gue sih itu satu kebanggaan tersendiri. Karena gue sangat mengapresiasi orang lain yang bilang karya gue jelek. Butuh konsentrasi dan waktu untuk mengkoreksi sebuah karya orang lain, dan dia sudah menghabiskan fikiran dan waktunya untuk melihat kekurangan dari karya yang gue bikin, harus diapresiasi dong. 

Yang lebih baik lagi, kalau dia kritik dan dia memberikan sebuah saran, "rie, ini kalu diginiin enak pasti, Rie, ini kalau digituin kayaknya lebih bagus" itu keren sih kalau menurut gue. Dengarkan sarannya, dan kritikannya tanpa harus memiliki mental down sama sekali. Coba pertimbangkan saran dari dia, kalau memang akhirnya jadi lebih bagus, kita akan coba untuk di karya kita selanjutnya. 

Jangan pernah menjadi orang yang berasa perfect yang tidak akan pernah jelek kalau bikin karya. Karena itu sangat bahaya buat perkembangan karya kita kedepannya, tetap humble, mau mendengarkan masukan dan saran dari orang lain, kita coba evaluasi dan kita coba terapkan, dan coba kita pertimbangkan, dan selalu kita berevolusi dalam proses pembuatan sebuah karya. 

Teruslah membuat karya, teruslah publish karya Anda. Gue udah hampir lihat, bahwa perkembangan pada dunia gue sendiri aja sebuah karya selalu berkompetisi, antara karya satu dengan yang lainnya. Dan memang gue akui, sudah mulai agak berat untuk bersaing dengan anak-anak baru yang memang masih sangat segar-segar isi kepalanya. Tapi ingat, gue punya pengalamannya, he he he .... 



Salam Kreatif,
#ariefabian

No comments:

Post a Comment